<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Irpan</title>
	<atom:link href="http://irpanhakim.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://irpanhakim.wordpress.com</link>
	<description>pelajaran sehari-hari</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 Dec 2010 06:30:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='irpanhakim.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Catatan Irpan</title>
		<link>http://irpanhakim.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://irpanhakim.wordpress.com/osd.xml" title="Catatan Irpan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://irpanhakim.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Memagari Masalah</title>
		<link>http://irpanhakim.wordpress.com/2009/10/11/memagari-masalah/</link>
		<comments>http://irpanhakim.wordpress.com/2009/10/11/memagari-masalah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 02:15:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Problem Solving]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[menghadapi masalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irpanhakim.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu saya ngobrol dengan ayah dan ibu saya. Ayah saya bertanya taukah saya bagaimana ceritanya tetangga sebelah rumah yang dulu akhirnya pindah rumah. Saya tidak tahu dan saya juga penasaran. Yang lebih membuat saya penasaran karena dulu pernah mendengar ibu B, tetangga kami itu, kok malah menjelek-jelekkan ibu saya padahal bisa dibilang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irpanhakim.wordpress.com&amp;blog=9144653&amp;post=26&amp;subd=irpanhakim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-25" title="fence-main_Full" src="http://irpanhakim.files.wordpress.com/2009/10/fence-main_full.jpg?w=300&#038;h=200" alt="fence-main_Full" width="300" height="200" /></p>
<p>Beberapa waktu yang lalu saya ngobrol dengan ayah dan ibu saya. Ayah saya bertanya taukah saya bagaimana ceritanya tetangga sebelah rumah yang dulu akhirnya pindah rumah. Saya tidak tahu dan saya juga penasaran. Yang lebih membuat saya penasaran karena dulu pernah mendengar ibu B, tetangga kami itu, kok malah menjelek-jelekkan ibu saya padahal bisa dibilang teman dekat ibu saya.</p>
<p>Ayah saya bilang suaminya seorang penipu. Ia menipu orang-orang satu kompleks. Saat menyadari telah ditipu, ayah saya datang ke kantornya dan marah-marah di sana. Pokoknya membuat suami ibu B itu menjadi terhina. Walhasil, ibu B menjadi benci kepada keluarga kami, begitu pula anak-anaknya.Yang paling menjadi korban masalah ini adalah ibu saya. Ibu B menjelek-jelekkan ibu saya di hadapan ibu-ibu yang lain. Anak-anaknya kalau kebetulan satu angkot dengan ibu saya selalu memperlihatkan wajah kesal dan marah.<span id="more-26"></span></p>
<p>Lalu ibu saya menimpali, harusnya ketika suatu masalah timbul, kita bisa memagarinya. Biarlah masalah ini hanya jadi masalah uang saja. Bahkan relakan saja uang itu hilang tapi jangan sampai putus silaturahmi dengan keluarganya. Pada dasarnya, ibu B dan anak-anaknya tau suaminya seorang penipu. Tetapi suaminya dipermalukan di depan umum  menghinakan mereka sekeluarga. Itu yang membuat mereka sangat marah. Ayah saya menjawab simpel, “Iya dulu papah masih muda dan emosional.”</p>
<p>Ketika suatu masalah timbul, kita harus bisa berpikir bukan hanya bagaimana cara kita menyelesaikannya tetapi juga bagaimana caranya agar masalahnya tidak membesar. Seringkali saat menghadapi masalah, sikap kita yang tidak tepat malah menggelindingkan bola salju yang terus membesar.  Misalnya, Kita punya masalah dengan seseorang, akhirnya kita jadi bermasalah dengan semua teman-temannya. Atau efek domino. Masalah keluarga jadi berimbas ke masalah akademik, ini contoh yang paling sering terjadi.</p>
<p>Memagari masalah tidak perlu kemampuan khusus. Ia hanya membutuhkan kesadaran semenjak awal , “Saya ingin masalah ini selesai dan tidak merembet dan membesar.” Kesadaran tersebut akan membuat kita mampu menata emosi. Sebab emosi yang tidak terkendalilah yang menyebabkan kita tidak bersikap proporsional saat menghadapi masalah. Ketika tensi masalah meningkat kita, kita menjadi emosional. Saat itu, kita tidak <em>mood</em> mengerjakan apapun atau jadi mudah marah bila bertemu seseorang. Inilah yang membuat masalah menjadi membesar dan merembet.</p>
<p>Masalah akan selalu datang selagi kita masih hidup. Bila kita membiarkan masalah menguasai diri, kita tidak akan pernah bisa melakukan sesuatu yang besar. []</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irpanhakim.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irpanhakim.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irpanhakim.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irpanhakim.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irpanhakim.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irpanhakim.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irpanhakim.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irpanhakim.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irpanhakim.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irpanhakim.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irpanhakim.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irpanhakim.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irpanhakim.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irpanhakim.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irpanhakim.wordpress.com&amp;blog=9144653&amp;post=26&amp;subd=irpanhakim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irpanhakim.wordpress.com/2009/10/11/memagari-masalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb34697cc9a2013919e6bce90ceee545?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://irpanhakim.files.wordpress.com/2009/10/fence-main_full.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">fence-main_Full</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kedewasaan Juga Ada Naik Kelasnya</title>
		<link>http://irpanhakim.wordpress.com/2009/10/03/kedewasaan-juga-ada-naik-kelasnya/</link>
		<comments>http://irpanhakim.wordpress.com/2009/10/03/kedewasaan-juga-ada-naik-kelasnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 22:28:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Self Fixing]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[kedewasaan]]></category>
		<category><![CDATA[kekanak-kanakan]]></category>
		<category><![CDATA[pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[tua]]></category>
		<category><![CDATA[ujian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irpanhakim.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Kalau saya ditanya apa arti kedewasaan, saya juga bingung. Kalau menurut KBBI dewasa itu artinya adalah akil balig atau sudah mencapai umur (tertentu).  Jika demikian banyak di antara kita terkategori dewasa. Tapi pertanyaannya apakah kita sudah memiliki kedewasaan? Lalu mengapa sering kita lihat orang dewasa secara umur tetapi kelakuannya masih kekanak-kanakan? Jadi apa itu dewasa? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irpanhakim.wordpress.com&amp;blog=9144653&amp;post=21&amp;subd=irpanhakim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" title="pilihanganda" src="../files/2009/10/pilihanganda.jpg" alt="pilihanganda" width="200" height="200" /></p>
<p>Kalau saya ditanya apa arti kedewasaan, saya juga bingung. Kalau menurut KBBI dewasa itu artinya adalah akil balig atau sudah mencapai umur (tertentu).  Jika demikian banyak di antara kita terkategori dewasa. Tapi pertanyaannya apakah kita sudah memiliki kedewasaan? Lalu mengapa sering kita lihat orang dewasa secara umur tetapi kelakuannya masih kekanak-kanakan? Jadi apa itu dewasa?</p>
<p>Tergelitik mencoba bertanya kepada mbah google apa itu dewasa. Ups&#8230; Oh ternyata begitu pikiran orang orang mengenai dewasa. Dewasa itu hanya seputar selangkangan. Tampaknya saya pun tidak perlu mencoba mencari contoh bagaimana itu dewasa sebab kata kunci yang terpikir itu ‘cerita dewasa’. Pasti isinya tambah ngaco. Sepertinya kedewasaan tidak bisa ditafsirkan dengan kata kunci dewasa pada berbagai pilihan yang disajikan mbah google.<span id="more-21"></span></p>
<p>Saya tidak menyerah, saya mencoba bertanya kepada ibu saya. Ibu saya mengatakan kedewasaan merupakan hasil pembelajaran. Atau dengan kata lain pembelajaran adalah pendewasaan. Seseorang menjadi dewasa bila ia mau mempelajari pengalaman hidupnya. Sebagai hasil pembelajaran, kedewasaan seseorang dites dengan berbagai ujian. Ujian tersebut memperlihatkan sejauh mana kita dapat mengaplikasikan pembelajaran yang kita peroleh sebelumnya.</p>
<p>Menariknya ujian kedewasaan tidak hanya memberikan cerminan sejauh mana pembelajaran yang kita miliki, namun akan memberikan pembelajaran baru bagi kita. Dengan demikian, tatkala kita berhasil menangkap hikmah yang terkandung maka saat kita menghadapi ujian lain yang serupa kita dapat menyelesaikannya dengan mudah. Bahkan kita tidak lagi merasakannya sebagai sebuah ujian tetapi sebagai sebuah dinamika yang biasa terjadi dalam kehidupan. Dengan kata lain, kedewasaan kita sudah naik kelas. Karena itu, semakin banyak ujian yang berhasil dihadapi, semakin dewasalah kita.</p>
<p>Sayangnya tidak semua orang berani mengambil ujian kedewasaan ini. Ada orang-orang yang memilih menghindar dan sembunyi dari ujian tersebut. Padahal bersembunyi dari ujian merupakan tindakan bodoh. Ujian saat itu mungkin saja berlalu tetapi sebenarnya ia akan terus kembali dalam bentuk lain sampai kita berhasil menyelesaikannya.</p>
<p>Selain itu, bersembunyi dari ujian memiliki konsekuensi lain yaitu “turun kelas”. Orang yang turun kelas kedewasaannya biasanya cenderung membesar-besarkan masalah. Perkara-perkara remeh bagi kebanyakan orang akan menjadi ujian besar baginya. Bahkan menemui orang-orang di luar rumah saja bisa jadi sebuah ujian besar baginya. Saat inilah kita bisa mengatakan sikap seseorang itu kekanak-kanakan.</p>
<p>Tepat orang-orang bilang, “Menjadi Tua itu Kepastian, Tetapi Dewasa adalah Pilihan”. []</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irpanhakim.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irpanhakim.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irpanhakim.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irpanhakim.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irpanhakim.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irpanhakim.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irpanhakim.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irpanhakim.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irpanhakim.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irpanhakim.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irpanhakim.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irpanhakim.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irpanhakim.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irpanhakim.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irpanhakim.wordpress.com&amp;blog=9144653&amp;post=21&amp;subd=irpanhakim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irpanhakim.wordpress.com/2009/10/03/kedewasaan-juga-ada-naik-kelasnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb34697cc9a2013919e6bce90ceee545?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="../files/2009/10/pilihanganda.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pilihanganda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menahan Penilaian</title>
		<link>http://irpanhakim.wordpress.com/2009/09/05/menahan-penilaian/</link>
		<comments>http://irpanhakim.wordpress.com/2009/09/05/menahan-penilaian/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 10:41:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irpanhakim.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah keluarga muda yang baru dikaruniai seorang putra. Mereka memelihara seekor kucing yang dirawat sejak kecil. Saking dekatnya keluarga tersebut seakan bisa berkomunikasi dengan sang kucing. Kucing itu pun seakan menjadi penjaga bagi bayi milik keluarga tersebut. Suatu waktu, ketika sang ayah pergi ke kantor, sang ibu pergi keluar sebentar untuk belanja ke warung. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irpanhakim.wordpress.com&amp;blog=9144653&amp;post=15&amp;subd=irpanhakim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-16" title="judge" src="http://irpanhakim.files.wordpress.com/2009/09/judge.jpg?w=300&#038;h=286" alt="judge" width="300" height="286" />Ada sebuah keluarga muda yang baru dikaruniai seorang putra. Mereka memelihara seekor kucing yang dirawat sejak kecil. Saking dekatnya keluarga tersebut seakan bisa berkomunikasi dengan sang kucing. Kucing itu pun seakan menjadi penjaga bagi bayi milik keluarga tersebut.</p>
<p>Suatu waktu, ketika sang ayah pergi ke kantor, sang ibu pergi keluar sebentar untuk belanja ke warung. Sang ibu tidak khawatir meninggalkan bayinya yang sedang tidur karena ia pikir sang kucing akan menjaganya.<span id="more-15"></span></p>
<p>Saat sang ibu sampai di rumah, ia tersentak kaget. Sang kucing melenggang bangga keluar dari kamar bayi sambil menjilati darah di bibirnya. Sang ibu lantas lemas, tetapi kemarahannya tak terbendung lagi. Ia segera mengambil ulekan dari dapur. Ulekan tersebut lantas dihantamkan ke kepala kucing yang sedang mencoba tidur di atas karpet ruang tengah. Satu hantaman saja kucing tersebut tewas dengan darah membuncah dari kepalanya.</p>
<p>Sang ibu segera berlari menuju kamar bayinya. Ia kembali tersentak kaget. Ternyata bayinya masih utuh dan tertidur pulas di atas kasur bayi. “Lalu darah apa yang ada di mulut kucing tadi?”, pikir sang ibu kebingungan. Ketika mencoba mendekati bayinya sang ibu melihat ternyata ada ular mati yang tercabik-cabik dekat kasur bayi.</p>
<p>Ternyata darah di badan sang kucing itu bukan darah bayinya, tetapi darah ular yang mungkin hendak menerkam anaknya. Artinya sang kucing adalah pahlawan!</p>
<p>Apa mau dikata nasi sudah jadi bubur. Apa yang sudah pergi tidak bisa kembali lagi. Coba dari awal sang ibu yang sudah lama percaya bahwa kucing adalah penjaga bayinya memelihara keyakinannya, tentu hal ini tidak terjadi. Atau setidaknya ia mengecek dulu apa yang terjadi sebelum menjatuhkan hukuman.</p>
<p>Kisah di atas saya gubah dari salah satu cerita pada ceramah tarawih Ustadz Asep Zaenal Ausop yang beberapa hari lalu berceramah di Salman. Sebenarnya materinya cukup serius. Sedikit menyinggung peran media dalam pembentukan opini. Juga menyinggung-nyinggung masalah terorisme yang saat itu masih sedikit hangat. Tapi kisah ini yang paling saya ingat dan saya pikir bisa cukup menggambarkan keseluruhan ceramahnya.</p>
<p>Kalau kita pikir, kejadian di atas sering kali kita alami. Kita dengan mudah memvonis seseorang. Menurut saya sikap yang paling buruk adalah memvonis orang yang baru sekali kita temui. Misalnya menjudge orang itu hedon dari pakaiannya. Atau yang sedikit lebih serius, kita kadang mencap orang radikal dari celananya yang ngatung dan jenggotnya yang panjang. Penyakit ini namanya generalisasi. Memang bisa jadi ia merupakan bagian dari komunitas tertentu. Namun demikian kisah hidup mereka tidak sama satu sama lainnya.</p>
<p>Saya punya keyakinan bahwa satu-satunya yang boleh memvonis hanyalah hakim. Ia berhak memvonis karena ia telah melihat bukti-bukti dan mendengar saksi-saksi. Itupun bila ragu atau dalam keadaan marah maka ia tidak boleh menjatuhkan putusan. Lalu apa hak kita menilai seseorang yang yang hanya kita ketahui sedikit dari kisah hidupnya. Siapa tahu apa yang ia lakukan justru demi kebaikan kita hanya saja kita belum mengerti.</p>
<p>Yang tidak masuk akal adalah kita kadang bisa memutuskan hubungan dengan orang yang sudah lama kita percayai. Dan tiba-tiba percaya pada orang asing yang mengatakan sesuatu yang buruk tentangnya. Tahanlah penilaian anda ketika anda selintas mengetahui sesuatu. Apa susahnya bertanya lebih dahulu bila ada suatu peristiwa yang terjadi. Dengarkanlah apa penjelasan yang ia punya. Batas antara kesalahpahaman dan saling pengertian adalah komunikasi. []</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irpanhakim.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irpanhakim.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irpanhakim.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irpanhakim.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irpanhakim.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irpanhakim.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irpanhakim.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irpanhakim.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irpanhakim.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irpanhakim.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irpanhakim.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irpanhakim.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irpanhakim.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irpanhakim.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irpanhakim.wordpress.com&amp;blog=9144653&amp;post=15&amp;subd=irpanhakim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irpanhakim.wordpress.com/2009/09/05/menahan-penilaian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb34697cc9a2013919e6bce90ceee545?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://irpanhakim.files.wordpress.com/2009/09/judge.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">judge</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dosen Itu (Rata2) Baik</title>
		<link>http://irpanhakim.wordpress.com/2009/08/29/dosen-itu-rata2-baik/</link>
		<comments>http://irpanhakim.wordpress.com/2009/08/29/dosen-itu-rata2-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 08:41:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irpanhakim.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Kalau dulu ditanya siapa yang paling saya takuti (setelah tuhan) saya akan jawab dosen.  Saking takutnya sama dosen saya jarang datang ke prodi. Kalaupun perlu ke sana saya akan datang dengan mengendap-endap, melirik kanan kiri menghindari dosen. Alasannya saya takut dimarahi oleh dosen. Saya punya banyak dosa terhadap dosen. Dosanya ini sebenarnya seperti lingkaran setan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irpanhakim.wordpress.com&amp;blog=9144653&amp;post=11&amp;subd=irpanhakim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-13" title="ngajar" src="http://irpanhakim.files.wordpress.com/2009/08/ngajar.jpg?w=218&#038;h=300" alt="ngajar" width="218" height="300" />Kalau dulu ditanya siapa yang paling saya takuti (setelah tuhan) saya akan jawab dosen.  Saking takutnya sama dosen saya jarang datang ke prodi. Kalaupun perlu ke sana saya akan datang dengan mengendap-endap, melirik kanan kiri menghindari dosen.</p>
<p>Alasannya saya takut dimarahi oleh dosen. Saya punya banyak dosa terhadap dosen. Dosanya ini sebenarnya seperti lingkaran setan. <em>Start up</em>-nya adalah saya stres dengan kuliah. Karena stres saya meninggalkan kewajiban tertentu dari perkuliahan. Karena kewajiban tersebut saya tinggalkan saya takut dimarahi dosen. Karena takut dimarahi dosen saya menghindari dosen tersebut. Karena saya menghindari dosen tersebut perkuliahan saya terganggu. Dan akhirnya bertambah lah stres saya. Sehingga semakin lama saya menunda menyelesaikannya semakin menjadi-jadi stres tersebut.<span id="more-11"></span></p>
<p>Setelah ikut training Siaware saya sadar bahwa lari tidaklah akan menyelesaikan masalah. Satu-satunya cara menyelesaikannya adalah dengan menghadapinya. Setiap pilihan ada konsekuensinya. Lari dari dosen ada konsekuensinya, menghadap dosen juga ada konsekuensinya. Konsekuensi paling besar adalah dimarahi atau mungkin saja dipersulit. Tetapi lari dari dosen konsekuensinya masalah akan semakin panjang. Karena itu, saya tidak peduli lagi bila harus dimarahi. Ini konsekuensi yang harus saya ambil.</p>
<p>Ketika Siaware saya membuat komitmen 36 jam untuk menemui beberapa dosen. Memang saya tidak berhasil menyelesaikannya dalam 36 jam karena sakit. Tetapi niat saya sudah bulat. Saya ingin hidup saya terus berlanjut.</p>
<p>Saya temui dosen yang menurut saya paling baik lebih dahulu. Sebenarnya beliau dosen yang paling saya takut temui karena dosa saya paling besar kepada beliau. Ternyata beliau memang orang baik. Sikap saya tentu mengecewakan beliau tetapi beliau tetap mencemaskan saya. Ketika saya menemuinya dan meminta maaf beliau malah mengatakan bahwa bila saya tidak menemuinya beliau yang akan mencari saya. Beliau yang akan terlebih dahulu memaafkan saya agar saya tidak memiliki beban untuk menemui beliau lagi. Lebih dari itu beliau meminta saya untuk selalu datang menemuinya sebulan sekali untuk melaporkan perkembangan kuliah saya.</p>
<p>Dosen berikutnya saya temui beberapa hari setelahnya. Awalnya saya ragu juga. Walau kata orang-orang beliau orang baik tapi sepertinya orangnya dingin. Ketika bertemu, beliau bertanya kemana saja saya. “Dibawa Saifudin ya?” tanyanya bercanda. Dan tidak ada sesuatu yang buruk terjadi.</p>
<p>Dosen terakhir yang saya temui sebenarnya tidak ada dosa saya kepadanya. Yang ada adalah saya menyia-nyiakan kesempatan yang beliau berikan. Tahun lalu di akhir semester saya mendapat nilai T. Harusnya saya tidak lulus karena sering bolos. Beliau mengatakan bila saya menemui beliau saat itu nilai saya maih bisa diperbaiki. Ketika saya menemui beliau, beliau malah berniat membantu saya. Saya diminta untuk seminggu sekali datang ke labnya untuk berlatih soal-soal.</p>
<p>Menurut ayah saya yang juga seorang dosen di PTN lain, problem saya merupakan problem yang umum terjadi pada mahasiswa yang belum lulus pada waktunya. Setelah ayah saya melihat perubahan saya pasca-Siaware, ayah saya menjadi lebih proaktif menghubungi mereka. Mungkin akhirnya ayah saya mengerti. Bahwa mahasiswa-mahasiswa tersebut bukan malas tetapi kehilangan motivasi. Saya juga melihat beberapa teman mahasiswa yang mengalami problem yang sama. Ada teman yang mengulang laboratorium sampai tiga kali. Padahal dosen penanggungjawabnya sudah memanggilnya untuk memberi perbaikan.</p>
<p>Mengetahui keadaan mahasiswa-mahasiswa tersebut membuat saya memberanikan diri berbagi cerita di atas. Saya sebenarnya malu untuk bercerita karena merasa hanya saya yang mengalami problem seperti ini. Semoga cerita di atas bisa membantu teman-teman atau siapapun yang punya problematika yang sama. Hadapilah ketakutan-ketakutan yang kita miliki. Katanya menurut penelitian, 90% dari ketakutan itu tidak beralasan dan hanya 4% yang terjadi.[]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irpanhakim.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irpanhakim.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irpanhakim.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irpanhakim.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irpanhakim.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irpanhakim.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irpanhakim.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irpanhakim.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irpanhakim.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irpanhakim.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irpanhakim.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irpanhakim.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irpanhakim.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irpanhakim.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irpanhakim.wordpress.com&amp;blog=9144653&amp;post=11&amp;subd=irpanhakim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irpanhakim.wordpress.com/2009/08/29/dosen-itu-rata2-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb34697cc9a2013919e6bce90ceee545?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://irpanhakim.files.wordpress.com/2009/08/ngajar.jpg?w=218" medium="image">
			<media:title type="html">ngajar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Dari Tikus</title>
		<link>http://irpanhakim.wordpress.com/2009/08/25/belajar-dari-tikus/</link>
		<comments>http://irpanhakim.wordpress.com/2009/08/25/belajar-dari-tikus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 01:56:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[berhasil]]></category>
		<category><![CDATA[kegagalan]]></category>
		<category><![CDATA[putus asa]]></category>
		<category><![CDATA[siaware]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[who moved my cheese]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irpanhakim.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Ada satu cerita yang paling saya ingat dari training Siaware yang lalu. Cerita ini katanya diambil dari buku who moved my cheese. Saya sendiri belum baca buku tersebut. Cuman ceritanya cukup berharga untuk dibagikan kembali. Ceritanya kira-kira begini, ada sebuah keju yang diletakkan di lubang terakhir antara tiga lubang. Bagaimana kira-kira cara tikus untuk mengambil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irpanhakim.wordpress.com&amp;blog=9144653&amp;post=6&amp;subd=irpanhakim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-7" title="who-moved-my-cheese" src="http://irpanhakim.files.wordpress.com/2009/08/who-moved-my-cheese.jpg?w=300&#038;h=225" alt="who-moved-my-cheese" width="300" height="225" />Ada satu cerita yang paling saya ingat dari training Siaware yang lalu. Cerita ini katanya diambil dari buku who moved my cheese. Saya sendiri belum baca buku tersebut. Cuman ceritanya cukup berharga untuk dibagikan kembali.</p>
<p>Ceritanya kira-kira begini, ada sebuah keju yang diletakkan di lubang terakhir antara tiga lubang. Bagaimana kira-kira cara tikus untuk mengambil keju tersebut? Pada hari pertama, ia akan memasuki lubang tersebut satu per satu. Ketika ia tidak menemukan keju di lubang pertama ia akan mencoba lubang kedua. Begitu terus sampai ia menemukan kejunya. Sampai akhirnya ia menemukan di lubang ketiga.<span id="more-6"></span></p>
<p>Apakah pada hari berikutnya ia akan melakukan hal yang sama dengan mencoba setiap lubang? Tentu tidak. Ia akan langsung menuju lubang ketiga yang diketahuinya ada keju. Begitu seterusnya untuk hari-hari berikutnya.</p>
<p>Apa yang akan tikus tersebut lakukan bila kita pindahkan kejunya ke lubang yang lain? Ketika mengetahui bahwa kejunya tidak ada di lubang ketiga, tikus tersebut tidak lantas putus asa. Ia akan mengerjakan kembali percobaannya pada hari pertama sampai akhirnya ia menemukan kejunya kembali.</p>
<p>Luar biasa. Ini sebenarnya pemikiran yang sederhana. Ketika kita menginginkan sesuatu seringkali kita berputus asa pada percobaan pertama. Atau ketika cara yang biasa kita lakukan pada masa kini ternyata tidak lagi membuahkan hasil. Kita merasa menjadi orang yang gagal. Padahal kita belum mencoba jalan kedua atau ketiga.</p>
<p>Putus asa bisa jadi alasan kita tidak berani mencoba cara lain. Kita lalu membayangkan bahwa kita memang orang yang akan selalu gagal. Padahal kegagalan sebenarnya hanyalah feedback atau informasi bahwa cara yang kita lakukan tidak tepat.</p>
<p>Coba bayangkan bila pada percobaan pertama tikus berputus asa di lubang pertama, ia tentu tidak akan mendapatkan kejunya. Atau ia berputus asa setelah mencoba lubang kedua tentu tikus itu sangat rugi karena ia sebenarnya sudah sangat dekat dengan kejunya. Bisa jadi itu yang terjadi pada kita. Kita berhenti sesaat sebelum kita mengalami kesuksesan.</p>
<p>Patut kita renungi pernyataan Thomas Alfa Edison ketika ditanya mengapa ia bisa bertahan setelah ribuan kali gagal. Edison menjawab, “Saya tidak pernah gagal, tetapi menemukan 9999 cara yang salah dan hanya satu cara yang berhasil. Saya pasti akan sukses karena kehabisan percobaan yang gagal.”</p>
<p>Bukan saatnya lagi kita berputus asa atas kegagalan yang pernah kita lakukan. Sudah saatnya kita mencoba cara baru untuk meraih impian kita.[]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irpanhakim.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irpanhakim.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irpanhakim.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irpanhakim.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irpanhakim.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irpanhakim.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irpanhakim.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irpanhakim.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irpanhakim.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irpanhakim.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irpanhakim.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irpanhakim.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irpanhakim.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irpanhakim.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irpanhakim.wordpress.com&amp;blog=9144653&amp;post=6&amp;subd=irpanhakim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irpanhakim.wordpress.com/2009/08/25/belajar-dari-tikus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb34697cc9a2013919e6bce90ceee545?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://irpanhakim.files.wordpress.com/2009/08/who-moved-my-cheese.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">who-moved-my-cheese</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menulis Semudah Bercerita</title>
		<link>http://irpanhakim.wordpress.com/2009/08/24/menulis-semudah-bercerita/</link>
		<comments>http://irpanhakim.wordpress.com/2009/08/24/menulis-semudah-bercerita/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 10:19:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulis Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irpanhakim.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang sahabat lama ketika menjaga stand UNIK (Unit Jurnalistik) Salman. Ia mengeluh karena sulit sekali menulis. Baru satu kalimat ia tulis ia merasa bukan itu yang ingin ditulis. Karena itu, ia delet kembali apa yang sudah ia tulis. Permasalahan ini seringkali dihadapi oleh orang yang baru menulis. Sebenarnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irpanhakim.wordpress.com&amp;blog=9144653&amp;post=3&amp;subd=irpanhakim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><img class="size-medium wp-image-4 aligncenter" title="menulis" src="http://irpanhakim.files.wordpress.com/2009/08/adel-belajar-ngetik-1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="menulis" width="300" height="225" />Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang sahabat lama ketika menjaga stand UNIK (Unit Jurnalistik) Salman. Ia mengeluh karena sulit sekali menulis. Baru satu kalimat ia tulis ia merasa bukan itu yang ingin ditulis. Karena itu, ia delet kembali apa yang sudah ia tulis. Permasalahan ini seringkali dihadapi oleh orang yang baru menulis.<span id="more-3"></span></p>
<p style="text-align:left;">Sebenarnya menulis itu mudah bila kita bercerita. Coba perhatikan diri kita ketika ngobrol tentang suatu hal. Kita lancar bercerita. Saat ini pun bila saya ajak tentu anda akan mudah bercerita tentang suatu hal. Obrolan tersebut bisa obrolan ringan atau obrolan serius. Mungkin itu perjalanan anda ke kampus atau tentang puasa yang sedang anda jalani.</p>
<p style="text-align:left;">Nah sekarang tinggal kita pindahkan saja obrolan kita dalam bentuk tulisan. Jangan anda ragu menuliskan ide anda walau mungkin anda berpikir apa yang akan ditulis adalah bagian penutup dari tulisan. Malah anda tidak perlu takut bila anda harus menangis atau memaki dalam tulisan tersebut. Yang penting tumpahkan semua yang ingin anda sampaikan.</p>
<p style="text-align:left;">Lalu apakah kita akan tampilkan tulisan amburadul tersebut? Tentu tidak. Tetap saja harus melalui proses editing. Hanya saja proses editingnya kita tunda setelah kita selesai “bercerita”.</p>
<p style="text-align:left;">Ada hal yang perlu diperhatikan. Sebaiknya editing tidak dilakukan segera setelah tulisan selesai. Biasanya kita merasa sayang terhadap hasil kerja kita sehingga ada bagian yang harus kita buang tapi kita merasa bagian tersebut sudah bagus padahal tidak nyambung. Bisa juga untuk meredakan emosi kita yang sedang meledak-ledak. Mungkin anda suatu ketika menulis protes anda kepada sebuah rumah sakit. Setelah emosi kita reda mungkin kita akan berpikir ulang untuk menerbitkan tulisan tersebut atau membuang bagian-bagian yang sensitif.</p>
<p style="text-align:left;">Selamat mencoba!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irpanhakim.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irpanhakim.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irpanhakim.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irpanhakim.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irpanhakim.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irpanhakim.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irpanhakim.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irpanhakim.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irpanhakim.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irpanhakim.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irpanhakim.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irpanhakim.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irpanhakim.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irpanhakim.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irpanhakim.wordpress.com&amp;blog=9144653&amp;post=3&amp;subd=irpanhakim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irpanhakim.wordpress.com/2009/08/24/menulis-semudah-bercerita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb34697cc9a2013919e6bce90ceee545?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://irpanhakim.files.wordpress.com/2009/08/adel-belajar-ngetik-1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">menulis</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
